Review Film "A Butcher's Heart": Pilih Mana? Menyembelih Hewan atau Merawat Hewan untuk Disembelih? | Europe on Screen 2019 part 1

poster film A Buthcher's Heart

Hi, teman-teman. Apa kabar? Bagaimana puasanya? Semoga lancar ya.

Ini adalah postingan pertama bulan Mei yang bertepatan pula dengan bulan Ramadan. Kali ini saya akan mereview tentang satu film yang saya tonton di acara Europe On Screen (EoS) 2019 berjudul A Butcher's Heart

Namun sebelum jauh membahas tentang film tersebut, sudah tahukah teman-teman apa itu Europe on Screen? Tidak usah buka tab baru untuk googling. Let me tell you what it is

Apa itu Europe on Screen?

Ini adalah festival film dari negara-negara Eropa di Indonesia yang sudah menjadi event tahunan sejak 16 tahun lalu, atau sejak tahun 2003.

Festival ini menyajikan berbagai genre film yang bisa teman-teman tonton GRATIS dengan datang ke venue pemutaran 1 jam sebelum penayangan. Drama, drama komedi, thriller, animasi, dokumenter, dan masih banyak lagi genre film yang ada di festival ini. 

poster Europe on Screen 2019


Bulan April adalah bulan diadakannya festival yang cukup menarik dan membuka wawasan ini.

Tahun ini EoS digelar di 8 kota, yaitu Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Medan mulai dari tanggal 18 - 30 April 2019. 

Ini adalah tahun keempat saya datang ke acara ini. Pertama dikasih tahu teman langsung gercep notnon. Gratis sih. Kebetulan sekali saya juga ada mata kuliah film studies. Jadi setiap nonton film jadi lebih seru karena ada yang bisa dianalisa.

Dan itulah sedikit mengenai EoS. Mari kita review tentang salah satu film yang saya tonton kemarin di IFI Yogyakarta.

Review Film Dokumenter A Butcher's Heart

A Bucther's Heart merupakan film dokumenter yang termasuk dalam jajaran film bertema #OurLand dalam EoS 2019. Film-film dokumenter ini menyajikan semua gambaran nyata yang menyangkut tentang tanah tempat kita lahir dan hidup serta semua hal yang berkaitan dengannya.

Narator dari film ini merupakan tokoh utamanya sendiri yang bernama Wessel. Ia merupakan seorang remaja umur 13 tahun berkebangsaan Belanda yang keluarganya memiliki toko daging.

Toko dagingnya sendiri sudah menjadi usaha yang diturunkan dari generasi ke generasi. Maka saat sekarang toko tersebut di urus oleh kakek dan ayahnya, Wessel lah yang akan menjadi generasi selanjutnya.

Wessel bersama sang kakek di bagian belakang toko daging.

Selama ini yang saya lihat toko daging di pasar-pasar tradisional kita hanya menjajakan daging yang sudah disembelih. Di toko daging dalam film ini, ternyata mereka membawa hewan ternaknya hidup-hidup dan menyembelihnya di tempat potong yang ada di bagian belakang toko.

Mengurusi daging seperti memotong dan membuatnya menjadi sosis dan ham sudahlah biasa. Namun menyembelihnya adalah hal yang berbeda bagi Wessel yang juga penyayang binatang.

Apalagi kata 'sembelih' pun tidak cocok dipakai karena mereka menggunakan senapan untuk membunuh hewan yang dagingnya akan dijual tersebut.

Wessel terkadang depresi dengan pilihan yang ada di hadapannya.
Di sinilah dilema dari tokoh utama kita. Apakah ia lebih suka bekerja dengan hewan mati ataukah dengan hewan yang masih hidup?

Pada scene terakhir ia masih menjalankan tugasnya membantu di toko dan juga ikut mengurusi hewan ternak di peternakan milik temannya.

Berikut ini trailer dari film A Butcher's Heart yang dirilis tahun 2017 ini:


Apa Pesan dari Film A Butcher's Heart?

Film ini memberikan pesan pada vegan garis keras bahwa tidak bisa kita menilai bahwa memakan hewan itu kejam, toh itu sudah dilakukan sejak zaman dahulu.

Tidak bisa kita meminta orang lain untuk stop menyembelih hewan, lalu kalo stop mata pencaharian apalagi yang harus digeluti? Mau menyediakan pekerjaan?

Menjual daging sudah jadi mata pencaharian, sudah menjadi apa yang membuat bergenerasi-generasi keluarga mampu bertahan hidup di tanah kelahirannya.

Selain itu, film ini juga memberikan gambaran pada orang-orang urban bahwa apa yang dimakan setiap hari seperti ayam fillet, ikan fillet, fried chicken, ham, sosis, kornet, steak, dll semua itu berasal dari hewan dan tentu hal tersebut melibatkan proses menyembelih, mengambil nyawa hewan.

Kadang suka lucu liat di youtube orang-orang yang kaget makan ikan yang masih ada kepalanya. Kayak gak mau makan gitu dan jijik ekspresinya. Padahal selama ini makan ya makan aja, kenapa pas ada kepalanya jadi kaget gitu.

Biasa aja kali. Norak amat. hahaha

Dan itulah teman-teman review film dokumenter A Butcher's Heart yang saya tonton di EoS 2019. Tahun depan pasti ada lagi acara serupa. Insyaalloh saya akan posting sebelum acara tersebut digelar supaya teman-teman bisa atur jadwal untuk nonton juga.

Oh, iya ini baru part 1 ya. Di postingan review film berikutnya saya akan review film lain yang saya tonton di festival ini. Kalo teman-teman punya film bagus yang mau saya review boleh juga dicantumin di komen, ya.

Salam,
Uyo Yahya



0 comments