#puisi Penyejuk Bahaya

Sekali lagi aku mengundang bagian paling dalam yang berbahaya
Pemikiran normal hanya selalu mengawasi
Dicobanya untuk merengkuh secepat mungkin, namun gagal
Sementara provokator keonaran bertepuk tangan menyemangati



Peperangan di luar tubuh selalu lebih mampu dikuasai
Aku payah dengan diriku sendiri
Memelihara si penyabar, di lain sisi menjaga si penggerogot si penyabar
Perselisihannya selalu tanpa ujung dan terlihat memang tak akan ada

Mulut-mulut kaum hitam-putih itu membuatku lelah
Dimengerti, namun dipersalahkan
Diabaikan pun tetaplah sama, bahkan memburuk
Maka wajar bila aku mengagumi bagaimana kepalaku mengolah pemikiran-pemikiran yang setiap detik, bahkan sepersekian detiknya selalu berubah

Pada saat-saat seperti ini maka si Penyabar akan menebalkan benteng pertahanan
Menghadang pikiran-pikiran setan mengelabui penentu lanjut dan berhenti
Tapi selalu saja aku ingin meloloskan hewan-hewan liar ini
Runtuhkan! Bumi hanguskan! Musnahkan! Enyahlah!

"Kemarilah," mata sejuk itu seakan berkata demikian. "Kendati lahar kau berikan padaku, Aku akan tetap memelukmu."

1 comments

  1. Salam dari blogger Pontianak Pagi pagi datang sudah mendapat bait bait puisi nan Indah ini. Semangadssssss

    ReplyDelete