#puisi Teruntuk Gelap

Langkah ini diharapkan menuju terang, tapi terang bersekutu
Maka kutujukan pada sang asal, kecewa kudapatinya dengan terang
Kudaki hingga puncak tertinggi, harapan memandang dan mengerti
Sekali lagi berubah-ubah, terang dan gelap

Kami menjalankan hukum alam
Akan selalu seperti itu, bahkan sejak kau terlalu polos hingga sekarang
Aku melihat kelemahanmu, kau dunia yang terperangkap
Beruntunglah karena aku dan terang adalah sekutu abadi
Begitu pula dalam menemani manusia, selamanya
Lalu bagaimana dengan para bangsawan yang melenggang penuh keanggunan
Tiada gelap yang terlihat di sutra dan perangainya, hanya penuh dengan terang
Aku membaca, seakan mampu, apa jawabanmu
Tapi berhati-hatilah karena ribuan jaringan di kepalaku selalu menuntut lebih
Tak pernah ada kesempatan yang terbengkalai lalu menghilang diterpa ingatan dan keduniawian
Mereka pun layaknya engkau, dunia yang terperangkap
Hanya saja kau istimewa, mahluk langka
Dan sekutu-sekutu dunia merangkai skenario yang tentunya istimewa, berbeda
Kau melihat dari sudut berbeda, kau mengerti bahkan sebelum penutur mengakhiri setiap kalimatnya
Kau hanya lahir dengan keistimewaanmu, dan itu cukup
Apa nama untuk kesediaan manusia menunggu? Sabar.
Baiklah, maka aku sedikit lebih bijak untuk mengatakan bahwa Ia pun tak sendirian
Adalah tergesa yang mendampinginya
Dan mahluk kecil ini terjangkit keduanya
Ah, memang tak akan ada yang pernah luput
Kendati tidak hari ini, besok mungkin
Kami benar-benar tidak berhak atas penjelasan yang akan selalu melebar ini
Karena melihat mata mungilmu adalah membuka banyak rahasia dan pemikiran milenium
Kendati kayak kebaikan, tapi kami ragu akan keseimbangan suasana sempit
Kau selalu lebih tahu, Raja dunia yang terperangkap

2 comments