#puisi Hinanya

Banyak tertulis dalam kalimat rumit
Ketidakpuasan, penuntutan atasnya
Tersaji untuk dibaca secara terbuka
Tanpa tabir penghalang, pun kesemuan

Karena keterbatasan cakupannya
Dan sedikit rasa malu yang terikat dengannya
Tiap kali kelu dan diurungkan
Parahnya bahwa ini bahaya
Tapi seperti memakan spesiesmu sendiri
Tampak kepuasan yang sedetik kemudian redup
Tetap berpagutan kebisuan
Aku bungkam
Dan di kedalamannya berserakan bak tak berpenghuni
Dimana gerangan mereka?
Menunggu untuk sang pemegang titah?
Atau berjalan jauh dan akan semakin jauh?
Tidak seharusnya aku membuang waktu

2 comments

  1. bolak balik baca puisi hinanya..angger ngga paham kemana arahnya....jadi inget jaman kuliah suka bikin puisi...sekian tahun kemudiandibaca...bingung isinya untuk apaan ya....puisi emang gitu kan, makin rumit kalimatnya, sedang dilanda rumit pula hati yang buatnya....;o)

    ReplyDelete