#puisi Kelinci

Satu, bahwa sendi-sendiku masih kokoh
dan bahak tawa mereka tak kuanut
Dua, bahwa setiap pembuluh darahku masih setia
bekerja sama menyalurkan merah kental darah

Lalu tiga, bahwa aku memiliki banyak jatah kegagalan
Dan empat, keyakinanku bahwa setipis kabut jarak antara keterpurukan dan harapan

Dan entah berapa keyakinan lagi yang memenuhi kepalaku
Tapi, belajar darimu adalah lentera buram yang masih perlu kurawat
Selain senantiasa kutanggalkan di tiap kelokan, dimana satu
persatu kuhancurkan untuk memperluas memoriku

Akan selalu ada dewa-dewi di biru dan hijau dunia
Aku menamainya teman
Dan, kau teman?
Mungkin

Algojo untuk memenggal kepalamu? Aku bisa melakukannya
Menjeratmu di sarang tarantula? Aku bisa lebih baik dari itu
Menjebakmu dengan drama-drama kehidupan? Bukan caraku
Tapi setan memerintahku untuk menggabungkan ketiganya

Selamat, kau yang pertama

6 comments

  1. ini mau nyate kelinci atau apaan mas uyo, gagal paham dengan bahasa puisi.
    memang ini menjadi kelemahan saya, karena saya tidak mau belajar memahami bahasa puisi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sykurlah, setidaknya masih mau membaca puisi sederhana saya ini...

      Nyate proses setelah 'membunuhnya', mas...

      Delete
  2. Jd, ini berhubungan dg kelinci? :)

    Diksinya cukup unik. Hanya saja, ini mengingatkan saya kl saya pengen ternak kelinci.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Things like kelinci percobaan lah, mas...

      Makasih...

      Jangan cuman ingin doang, do it now as soon as possible...hihi

      Delete