Draft Lagi #4

Alhamdulillah di tengah padatnya schedule bulan ini. Cerbung tak berjudul dari postingan sebelumnya, Draft Lagi #3, sudah rampung. Selamat membaca.

"Maafkan aku, Lui." Ekspresinya dari hati. Tentu saja, dia temanku.
"Tak apa," ucapku, berusaha mengatur laju napas. "Orang-orang yang ditinggalkan normalnya berduka. Lutessa dan aku mampu lebih dari normal. Intinya kami tidak ingin berlama-lama."


Kesedihan memang bukan identitas yang biasa u keluargaku. Meskipun kami menyadari bahwa masing-masing menyibukan diri hanyalah cara untuk menepis duka dan menukas sepi tapi toh selama ini itulah jalan kesuksesan melewati banyak peristiwa di keluarga Vaughn. Tetap tenang, luapkan pemikiran yang ada, pilah dan kembalilah normal.

Aku pribadi cukup mewarisi watak itu dari Billy meskipun Paman Ian dan Bibi Lutessa sepakat bahwa darah keluarga Evans, keluarga Ibuku, lebih banyak di tubuhku. Warna rambut coklat tua dengan semburat merah dan bergelombang kuwarisi dari Sally, Ibuku, wajah oval dan kaki lenjang juga darinya, sementara Billy hanya mewariskan mata birunya padaku. Namun dari semuanya aku berani bertaruh bahwa komposisi Billy dan Sally seimbang, aku cerminan dari keduanya.

Jendela bis sudah terbebas dari embun yang tadi menyelimutinya. Pemandangan kesibukan mulai terlihat dimana-mana saat bis kami melintasi halaman sekolah. Itu dia, sinar matahari yang mengintip dari balik dedaunan pohon maple, favoritku. Daun merahnya dibiaskan dengan lembut oleh matahari dan hasilnya adalah orange dan merah muda sebagai warna tambahan.

Bis sudah lenggang, Rose dan aku terbiasa keluar setelah yang lain. Ini membebaskan kami dari paparazzi ulung kelas kami seperti Elizabeth Lerman dan Goergiana Malik. Semester lalu Aku dan Rose pernah muncul di halaman situs mereka. Waktu itu postingannya adalah foto dimana kami berdua sedang berselisih dan tanganku hampir menampar wajah Rose, pada kenyataanya seperti itu  tapi software editing memanipulasinya dengan baik. Sempurna, tanganku mendarat di wajah Rose. Dan hasil yang lebih penting kami tahu wilayah mana yang tidak pantas kami kunjungi.

Udara pagi yang hangat menyentuh tubuhku saat berjalan menyebrangi halaman. Rose di sampingku, asyik bertexting dengan Lucas, adiknya yang baru masuk kelas satu tahun ini. Aku yakin wajahku memang memasang ekspressi biasa-biasa saja, terlihat dari wajah-wajah pengecek mood-mu di koridor sebelum loker. Seperti biasa arah mata mereka dari atas kebawah, atau sebaliknya.

Pagi ini dimulai dengan kelas sejarah Prof. Scott. Jujur aku tidak terlalu menyukai pelajaran ini. Sesuatu yang lumrah dan umum bila kita tidak memiliki kemampuan mengingat tanggal dengan baik, yang mana hal tersebut dibutuhkan di pelajaran hapalan yang satu ini. Terlebih lagi peristiwa yang memang tidak memiliki kaitan secara langsung dengan kehidupan yang kita jalani, lebih spesifiknya tidak teralami.

Jam berikutnya adalah Biologi. Klasifikasi mahluk hidup sudah dibahas tuntas di smester lalu. Smester ini akan membahas ke sistem kehidupan yang berlangsung di tubuh manusia. Tapi, tetap saja kita hanya akan membedah katak. Bukan manusia. Tidak akan mungkin. Lagi pula Prof. Kipps terlalu penakut, bahkan untuk memandang mata Kepala Sekolah Evershine, Prof. Aadesh.

Aku cukup puas dengan awal semester ini. Dua pelajaran awal yang membawa kami sampai waktu istirahat lumayan bisa kunikmati. Meskipun terselip kesialan saat Prof. Scott memintaku untuk menjelaskan sedikit sejarah yang aku ketahui mengenai pembentukan kota Lakeheaven. Seharusnya aku tidak menyebutkan nama keluarga Basilius sebagai salah satu pioneer karena lima tahun kemudian mereka membocorkan situasi pertahanan dan denah benteng Strongflame kepada penjajah, dengan kata lain mereka mata-mata.

"Kau yakin hanya ingin makan itu, Luina?" Bu Ora pegawai kafetaria menyadarkanku dari lamunan kelas sejarah.Oh, ya, itu, hanya ada kentang dan jagung di piringku.

"Bisa tambahkan daging cincangnya?" Jawabku setelah mengecek menu-menu di hadapanku.
"Tentu saja," Ia menambahkan dua sendok daging cincang merah yang ku pesan. "Kau perlu banyak makanan. Aku lihat tubuhmu melangsing."
"Oh, terimakasih." Jawabku, sedikit termenung menyadari ada yang menyisakan sedikit perhatiannya untukku. Bahkan dari Bu Ora. Kami tidak pernah terlibat percakapan seperti ini sebelumnya.

Aku baru saja akan meninggalkan antrian setelah membayar pesananku dan ingin menuju ke tempat dimana Rose sudah terduduk dengan makanannya di antara meja-meja yang ramai di kafetaria sebelum tangan Bu Ora menarik tanganku, dengan lembut pastinya. 

"Aku kenal dekat dengan Pamanmu. Ian Vaughn." Itu kalimat verifikasi dari tindakannya. Aku menatap wajahnya untuk beberapa saat yang bisa dibilang sebentar. Antrian di belakangku mulai ramai.

"Oke, terimakasih. Tapi kau bisa lihat." Aku memiringkan kepala ke arah antrian dan tersenyum.

Tanganku terbebas dari pegangannya dan apalagi yang aku tunggu, perutku sudah keroncongan. Rose melambai dengan raut wajah tidak sabar. Dua meja dari antrian dan aku mendapatkan kursiku.

"Ada apa dengan Ibu pegawai kafetaria?" Sudah jelas dia akan menanyakan yang barusan.
"Hanya ucapan belasungkawa." Jawabku lumayan lugas, sedikit tidak sabar dengan kentang di hadapanku.
"Oh, begitu. OK."

Rose kembali menikmati makanannya yang hampir habis. Dia sedang dalam keadaan yang baik. Lahapnya. 

"Eh, kenapa tadi kau menyebut nama Basilius? Semua orang tahu dia itu penghianat Lakeheaven." Topik berubah ke hal yang entah mengapa lumayan mengusik pikiranku. 
"Kupikir aku tadi menyebutkan Clementius," aku mencoba membela sesuatu yang sudah jelas hasil akhir bagi pembicaraan ini. Aku akan kalah.

"Oh, Rose...Benteng Strongflame!" 

Aku yakin suaraku cukup keras. Orang-orang di radius tiga meja dari tempatku memandang sinis. Kami memang baru membahas Basilius. Tapi kepalaku lebih cepat dan sudah sampai ke bagian Strongflame. Lukisan di ruang kerja Paman Ian dan sisa-sisa bangunan di hutan kota, itu Strongflame.

"Luina, barusan itu cukup membuatku ingin meninggalkan meja ini. Tapi aku temanmu."

2 comments

  1. Di tunggu kelanjutannya sob :-)

    ReplyDelete
  2. oh luina mengingatkan ku pada guru olahraga ku semasa di SMK

    ReplyDelete