Draft Lagi #3

Saya tidak menyangka bahwa Cerbung (Cerita Bersambung) dari postingan Draft Lagi yang belum diberi judul resmi ini akan berkembang sejauh ini. Banyak ide yang meletup-letup di kepala dan saya harus bijak memilihnya. Semoga kalian suka lanjutan dari Draft Lagi #2 berikut...

Aku menyesali tindakanku malam tadi. Rasa canggung yang tadinya mulai melebur di antara kami berdua mulai menguat kembali. Bodohnya aku membiarkan instinct liarku menyeruak hanya untuk mengambil kertas setengah terbakar itu. Tapi lebih dari itu memang seharusnya akulah yang memlikinya, hanya aku.

"Tidur nyenyak?" Bibi Lutessa bertanya padaku disela-sela sarapan pagi ini.
"Tidak juga," aku jawab tanpa melihat matanya.

Selebihnya hanyalah suara denting dari peralatan makan yang kami pakai dan pemberitaan tentang kematian Paman Ian yang masih menjadi headline news televisi lokal meskipun Ia telah pergi dua minggu yang lalu. Yang kuheran apa mereka tidak menimbang bagaimana perasaan kami, bila memang Bibi Lutessa juga masih berduka, sebagai satu-satunya keluarganya? 

Mereka seenaknya membuat fakta bahwa penyebab kematian ditutup-tutupi karena polisi masih meragukan hipotesa yang mereka punya-padahal sudah jelas Ia memiliki jantung yang lemah di riwayat kesehatannya, belum lagi ada yang sebagian mengira Paman memang telah lama diincar setelah keberhasilannya mengungkap kasus korupsi besar-besaran pada masa Walikota Lynwood dan masih banyak lagi opini-opini tidak jelas yang berkembang di sekitarku.

Klakson mobil sekolah Evershine yang telah dua kali dibunyikan bagaikan penyelamat pagiku. Setengah gelas susu berhasil aku habiskan sebelum bunyi ketiga terdengar, yang bila memang sudah terdengar berarti mereka meninggalkanku. Tas sekolah kusambar dari kursi disebelahku lalu melangkah pergi meninggalkan Bibi Lutessa yang masih menikmati sarapannya. 

Apa aku keponakan yang baik, meninggalkannya tanpa "Sampai jumpa!"? Itu akan terlalu berlebihan terlebih mungkin dia memang masih berduka. Bila dipandang secara rasional, Paman Ian, Bibi Lutessa dan mendiang Ayahku Billy memang dibesarkan bersama di rumah ini. Dan dia telah kehilangan kedua kakak laki-lakinya, dia pewaris satu-satunya dari group perusahaan Vaughn, akan sulit baginya mengurusi segalanya sendirian, dan aku membiarkannya merasa sendirian. Tapi ekspresi datarnya memang terkesan "yang lalu biarlah berlalu".

Itu dia klaskson ke tiga yang berhasil mempercepat langkahku sesaat sebelum kulihat wajah Pak Gulliver yang memerah di kursi kemudi.

"Semoga harimu menyenangkan, nak." Sapanya saat aku telah memasuki pintu bis. "Berharaplah masih ada satu bangku untukmu di sana," tambahnya dengan sedikit gerakan kepala menunjukkan letak kursi penumpang.

Aku sedikit menelitinya sebelum mengucapkan, "Terimakasih, Pa Gulliver." Tidak biasanya dia seramah itu.

Bis cukup penuh namun aku berhasil menemukan kursi tempat biasa aku duduk, di sana baris kedua terakhir dari belakang, bagian yang paling dekat dengan jendela tepatnya. Aku juga melihat Rose telah terduduk di sebelah kursiku . Dia tampak salah tingkah, senyum dan ekspressi bertanya-tanya yang berlebihan. Aku hanya tersenyum dan berharap dia hanya akan mengingatkanku tentang beberapa tugas sekolah, tidak lebih dari itu dan memang biasanya hanya seperti itu. 

Akhirnya aku berhasil mengenyahkan tubuhku dikursi bis yang tidak bisa dibilang empuk. Bis melaju dan aku sungguh berharap embun yang melapisi bagian terluar kaca jendela yang hanya akan menjadi pusat perhatianku sampai tiba di sekolah. Tapi, aku punya Rose. Akan sangat keterlaluan bila mengabaikannya. Jadi kuputuskan untuk mengobrol dengannya sebelum...

"Kita punya essay yang harus dikerjakan selama liburan musim panas kemarin dengan kriteria yang telah dibeberkan Professor Wan di blognya. Tapi ada satu hal yang harus selalu kita perhatikan, lagi-lagi dia menyelipkan teka-teki di akhir postingannya. Ah, ini membuatku lebih penasaran padanya. Apa kau..."

Hey, Rose aku baru saja setengah menoleh, pekikku dalam hati.

"Sudah, sudah aku selesaikan di minggu pertama libur." Aku menyukai Rose, dia tipe cewek yang lumayan tidak karuan, terkadang menggebu-gebu, lalu menjadi penyendiri, setelah itu ceria dan seterusnya seperti itu. Lumayan aneh, tapi dia satu-satunya teman yang kupunya di Lakeheaven. Aku suka rambut hitam lurusnya, mengingatkanku pada rambut asli Nicki Minaj. Tapi percayalah, Dia tidak sejelek itu. Hanya saja dia kurang percaya diri.

"Tapi Luina, minggu pertama itu Pamanmu meninggal." Nadanya tampak hati-hati.

"Itu tidak menjadi halangan, aku mengerjakannya di dua hari pertama sebelum...," kuharap aku bisa menyelesaikan kalimat ini dengan lancar. "kau tahulah, Rose."

To be continued...

10 comments

  1. para cerpenis memang pandai memanfaatkan moment, ada secuil saja hal unik dan baru, bisa dikembangkan menjadi cerita...saya belum membaca keseluruhan, yang pertama dan kedua, inshaa Alloh setelah ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehem... Makasih mba khusna. Gak nyangka bkalan ada yang penasaran dgn episode sebelumnya yg cnderung pendek-pendek.

      Delete
  2. Rose harus belajar menjadi sedikit elegan untuk mengimbangi gaya rambutnya, it looks like, 'tidak karuan'? oh no.
    and talk about Paman Ian, berat juga kasusnya, sampai ada kaitannya dengan kasus korupsi.

    omg i didnt say anything just ignore :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. What should I ignore?

      You said anything.

      About rose, dia akn mnjd org pnting d Lakeheaven d msa yg jauhhhh stelah ini. Prestasi Paman Ian hnyalh pnegasan krakter.

      Delete
  3. Gak tau deh kalo gak baca dari awalnya.. hihi ^^V

    ReplyDelete
  4. perasaan udah komentar disini.
    saya belombaca secara seksama...pokoknya mah didukung sampe bisa naek cetak jadi novel kang...kalau perlu biar saya yang jadi produsernya lah...serius

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jiah... Baca semuanya atuh kang....

      Jadi novel? Aamiin.

      Delete
  5. Waduh, bahaya gan cerita yang mau dibukukan diposting di blog. Nggak takut ada nyolong tulisannya?

    Tapi, mantab dengan semangatnya, saya masih berkutat dengan draft tapi belum ditulis-tulis hehehe T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uh, siapa bilang mau dibukukan?

      Itu sih another story lah ya...

      diposting dong, jangan didraft aja...

      Delete