Mantap, Mereka Mendukungku

Jadi aku merasa masih muda dengan umur 20 tahun ini. Otakku masih mampu menerima banyak input dari hal-hal baru yang kutemui, didasari rasa suka atau tidak. Yeah, untuk yang pernah membaca postingan Gue Amfibi (Ambivert) mungkin sudah sedikit mengenal seperti apa orang dibalik blog ini, 'mahluk' tidak jelas seperti apa yang dengan rajin, kalau mau dibilang rajin, menulis artikel-artikel mengenai hidupnya di blog ini. Egois ya, kapan membuat artikel yang benar-benar bermanfaat, tulisannya tentang diri-sendiri.

Kembali ke laptop dan tema kita di malam ini talk about dukungan. Aih, tukul pisan.Mari sedikit membahas tentang amfibi(baca: ambivert), sedikit mengingatkan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang mewarisi tipe ekstrovert dan introvert. Kadang meledak-ledak, kadang terccenung-murung; terkadang "Hey, ini aku!", di lain kesempatan 'Just leave me alone'.

Beranjak dari introvert sejati yang menahan banyak ide dan perasaan, tidak diungkapkan, dipendam, membusuk. Melakukan gerilya untuk mendapat pengakuan dari mereka yang banyak bicara dan berhasil menemukan jati diri yang tidak mudah ditebak. Bahkan tak bisa disangkal, aku pun merasa takut. Haha. Waktu itu aku bahkan bisa lebih cerewet dari saudara tiri saya yang tidak jahat, mudah-mudahan, Elsa.

Dua minggu sebelum Ramadhan Ibu berkunjung ke Tangerang, ke rumah kakak. Waktu itu sedang khitanan keponakan dan saat suasana rumah lenggang, ehm, sedikit berbicara serius dengannya.

"Uyo pengen kuliah."
"Baguslah," responnya.
"Tapi jurusannya," jeda, tapi tidak sampai satu menit, "bukan IT lagi."
"Lalu apa?"

Aku membuka file ebook berbahasa inggris dan mulai membaca satu paragraf lalu mengungkapkan entah bagaimana aku mampu mengerti seluruh paragraf itu. Maksudku, alami. Tanpa pernah mengambil kursus. Hanya dicekoki banyak lagu bahasa inggris oleh kakak-kakakku dari jaman boyzone, backstreetboys, westlife dan britney spears.

"Sastra Inggris," jawabku mantap. "Tidak masalah, 'kan?"
"Yang penting Uyo bisa dan 'suka'."
I love you, mom.

Masih di hari yang sama aku ungkapkan keinginan itu kepada salah satu kakakku dan dia menyatakan respon yang tidak berbeda.

"Yang penting kita suka, itu akan lebih mudah. Jadi, udah mulai nabung?"
"Belum."
"Yaudah, nabung dulu dan kerja yang bener."
"Siip!"

Tidak ada yang istimewa, mungkin. Tapi itu berlaku bagi orang yang tidak ada sedikit pun unsur keintrovert-an. Mengungkapkan keinginan yang benar-benar besar dan disetujui oleh mereka, Oh, it's a big, I meant really-really a big, bigger, the biggest achive I've ever reached...

Pernah kalian bayangkan orang yang teramat menyukai dunia membaca harus berhadapan dengan sesuatu yang teknikal? Ironi. Tapi ini hidup. Kita hanya dituntut untuk bisa menjalani skenario Tuhan dan tentu saja berusaha bila menginginkan perubahan.

11 comments

  1. then I, too, support you ;)

    ReplyDelete
  2. yaa itulah hidup terkadang apa yang kita ingkan malah berbanding dengan apa kita harapkan

    ReplyDelete
  3. Semoga kuliahnya kesampaian ya.... Wuih sastra Inggris!

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. everybody has their reason about the definition of success...pernah posting deh.

      Delete
  5. apa yang akan terjadi kelak adalah pilihan kita pada saat ini...semoga tercapai keinginannya masuk sastra inggris :-)

    ReplyDelete
  6. Setiap blogger memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri, personal blog juga bisa menginspirasi lho... ^^

    Saya juga mendukung langkah baru menuju bangku kuliah, semoga berhasil!

    ReplyDelete