Draft

Tak ada yang tahu, karena aku tidak pernah berpikiran bahwa pun mereka tahu akan merubah keadaan. Kecuali Larry yang kerap kali ke ruanganku, tentu saja, tanpa sepengetahuanku sebelumnya. Terakhir dia membuka file-file notepad di komputer dan kuharap isinya tidak akan melekat terlalu lama di kepalanya.

Dan aku masih belum menemukan mengapa kematian Kepala Sekolah Morning Bright seakan bukan hal yang mengejutkan bagiku. Aku menghormatinya, tipe manusia tulus di jaman sekarang ini. Aku mengikuti upacara pemakamannya, meneteskan air mata, kembali ke rumah, berpikir tentang kematian dan terakhir itu hal yang menyenangkan.

Terlalu banyak pemikiran yang berseliweran di kepalaku. Mulai dari topik apa yang akan kubawakan di acara SatNight di radio Augsburg, tentang pendidikanku, Ibu dan mantan suaminya, maksudku Willy Ayahku, dan yang paling mengocok perutku, Jaime tidak lagi sendiri. Ini hanya tentang aku dan kelihaian memilah mana yang lebih penting untuk dipikirkan saat ini. Aku harus menentukan prioritas.

SatNight di Augsburg harus selalu menarik. Ini satu-satunya pekerjaan yang kupunya sekarang dan lumayan menyenangkan kendati harus berpura-pura ceria di telinga para pendengar. Tapi aku tiba-tiba diserang kebencian terhadap kepura-puraan. Setelah sembilan tahun bertetangga, bersekolah dan bergaul bersama dengan Parker, baru di pesta kemarin aku mendapatinya berciuman dengan salah satu anggota keluarga Malkovich.

Aku seharusnya tidak membesar-besarkan masalah ini. Tapi, aku sempat berpikiran bahwa mungkin Parker akan menjadi pilihan terakhirku saat telah banyak pria mengecewakanku. Itu memang tidak adil untuknya. Tapi Parker dengan Malkovich lebih tidak adil lagi untukku.

Apa ini? Biasa, hanya draft di kepala.

18 comments

  1. sudahlah jangan terlalu di pikirkan hehe

    ReplyDelete
  2. fiksi? biasa jeng vina lagi pengen nyampah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, fiksi mba.

      Daripada dibuang sayang, mnding ditulisutk diselamatkan.

      Delete
  3. draft nya saja sudah sedemikian jlimet dan kudu tiga balikan maca'na...itupun baru dikit pahamnya...bayangin kalau udah jadi artikel pasti bakal mantap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi gak punya waktu buat nulia, kang...trua kalo panjang2malah suka bnyak yg silent reader atau lebih dari itu, hanya dilihat judulnya aja dan pesimis dengan pnjangnya artikel.

      Delete
  4. fiksi singkat tapi ceritanya sungguh menarik, apapun itu semua kisah tentang cinta dan perasaan pasti menarik ...salam :-)

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. Oh, man. If I could just have a choice. I will leave my job and overcome these much ideas in my head.

      Delete
  6. itu cerita tntng apa ya?? *smile

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hore, satu pengunjung blog dibuat penasaran. Berhasil...berhasil.

      Thanks.

      Delete
  7. Menarik gan,, sebuah pemikiran yang luar biasa...
    Lanjutkan!!! :)

    ReplyDelete
  8. cerita ttg cinta tak akan pernah ada akhirnya ya :)

    ReplyDelete
  9. saya gagal paham mas yahya, kok dari penyiar radio segala, kok nyrempet detektif, haduh ah bingung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gagal itu kberhasilan yg tertunda. Ayo berjuanglah lbh keras...hihi

      Delete