Draft Lagi

Selalu, aku memilih malam sebagai waktu yang tepat untuk bisa berbicara dengannya. Aku cukup terkejut dengan banyak hal yang bisa kuungkapkan. Mulai dari sekolah, teman-teman hingga hal tidak penting seperti vas bunga di samping pintu depan yang kutemukan telah pecah pagi tadi, dan yang pentingnya aku mulai terbuka tentang keanehan-keanehan yang kurasakan akhir-akhir ini, di kota ini.

Di hutan kota ada sisa bangunan kuno, hanya bongkahan-bongkahan tembok dari batu dengan tekstur yang kasar. Aku hanya sedang mengalihkan perhatianku dari kesedihan mengenai kepergian Paman Ian, membiarkan kakiku entah kemana dia akan melangkah, tersandung lalu terkejut menemukan sisa-sisa bangunan tua. Awalnya tak ada yang menarik, tapi aku menemukan kesamaan arsitekturnya, kendati sulit untuk pertama kali meyakinkan diriku bahwa ini sama dengan lukisan yang ada di ruang kerja Paman Ian.

"Dia memang menggali segalanya mengenai kota ini," jelas Bibi Lutessa, "Pamanmu, Ian."
"Aku hanya tidak mengerti," kalimatku mengambang sebelum, "Seandainya pihak Polisi setidaknya mengijinkanku untuk menggeledah ruang kerjanya."
"Dan aku tidak mengerti dengan kata 'menggeledah'?" Aku tidak mendapat kejelasan dari maksud ucapannya, terkesan mencari tahu apa yang ingin kutahu.

Kecanggungan menyeruak di antara kami dan aku tak bisa memecahkan kedinginan ini, jadi kuputuskan untuk beristirahat.

"Tapi, bila saja kau lebih terbuka padaku tentang apa yang sedang kau lakukan dengan semua ini," mengejutkan. Aku berbalik memastikan bahwa ini awal dari perubahan pikirannya. "Aku mungkin bisa mengaturnya."

***


2 comments

  1. asyiikk, ceritanya mengalir Mas. cuma saya mesti baca dulu dari awal nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, tapi gimana ya mas...belum aku sambung-sambungin, jadi bakal bingung tuh nantinya.

      Delete