Apa Yang Terjadi

Banyak kata-kata yang dulu tertahan di sini. Lalu ada juga keraguan yang lebih memegang kendali. Takut, gamang dan juga yang lainnya seakan memang mereka mengadakan voting. Padahal hanya perkara sederhana untuk menjawab ya atau tidak.

Dan si bijaksana yang diharapkan kehadirannya tersandung batu gelisah buah karya si penakut. Pecahlah sudah peperangan antara kebaikan dan keburukan. Derita, dendam dan kewaspadaan yang mendekati gila hanyalah warisan yang tidak diharapkan oleh kegagalan.

Sementara di pihak pemenang, rasa sudah tak ada. Hanya lahir yang dibanggakan tanpa melihat sisi makna. Arti diabaikan, tanpa tahu mereka marakit boomerang di setiap hari sepanjang tahun, kuharap hanya tahunan, tak ada dekade, bahkan millenium. Jangan ada.

Lalu hal-hal aneh pun terjadi. Khatulistiwa yang bergeser, namun hanya ilusi para pemimpi-sepersekian detik jeda kehidupan, mustahil-malam yang lebih terang daripada siang, kau hanya terlalu lama terlelap-lalu dia datang kembali, mimpi yang terlalu mengobsesi, karena saat ku selesaikan tulisan ini, dia hanya ada di halaman sebelumnya.

4 comments

  1. penuh kiasan. jadi inget jaman stm dulu suka nulis dgn gaya seperti ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uh waw...thank you.

      Bikin atuh kang tulisan bergaya spt ini. Pengen baca saya.

      Delete
  2. hah? maksud,, terus gue harus balik lagi dari halaman awal buat mengoreh-oreh begituan. ibarat baca buku fiksi yang cara penulisannya lebay, sehingga ketika paragraf demi paragraf sudah lewat, eh, barusan itu apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hanya kiasan, mba elsa...

      Cieee so soan suka baca, pdahal udah jarang.

      Delete