Late Like Me

Aku merinding bila berbicara tentang waktu. Mengerikan bahwa aku memang sering bermimpi tentang aspek kehidupan yang paling tua ini. Membingungkan bila harus mengingat apa yang telah terjadi di mimpiku itu. Urutannya acak, tak beraturan. Apalagi tingkat keseringannya semakin membuatnya kuat, membuatku terkadang sulit menentukan antara mimipi dan pendekatannya dengan kenyataan.

Dan terlebih lagi yang membuatku bergidik adalah waktu yang mampu menuakan manusia. Bahkan membuat pikun, tak mengenal muda atau tua. Dia yang menurunkan semangat saat petang tiba dimana ia sendiri menua di akhir hari. Dia yang membuat kesakitan saat dia sendiri tak mampu memutarbalikkan waktu.

Masih termasuk dalam hal-hal membuat waktu mengerikan dalam pandanganku adalah kebiasaanku terlambat ke sekolah. Tidak setiap hari, tentu saja. Tapi lebih sering daripada yang lain dan aku membencinya, meski terkadang teramat menikmati keterlambatannya. Karenanya aku bisa mengenal orang-orang yang akan membantuku keluar dari keterlambatan: Supir angkot yang pandai ngebut, satpam tegas yang ternyata teramat mudah untuk dikalahkan pendapatnya mengenai prinsip waktu dan tentu saja sesama siswa yang sering terlambat, yang lambat laun membuat kami dekat. Terkadang keluar dari koridor kebenaran itu memang menyenangkan.

Yang ku tahu adalah, ini memang rumus kehidupan yang umum, kau tak akan mengenal putih bila tak tahu hitam. Kau tak akan tahu manis bila tak pernah mengecap pahit. Dan tentu saja kau tak akan pernah sangat bersyukur akan kedatangan di awal waktu bila tak sekalipun mengalami keterlambatan. Sederhana dan ini berlaku untuk segala bahasan.

Dan tentu saja yang baru aku sadari dalam kurun waktu tiga tahun ini: kau tak akan tahu seberapa berartinya kehadiran seseorang tanpa pernah kehilangannya... Oh, sang waktu. Seandainya kau mengijinkanku untuk sedikit mengintip masa depan pasti dunia akan lebih hancur dari sekarang. Atau barangkali aku akan menutup mata-tidak melanjutkan ketertarikanku tentang masa depan karena hal-hal buruk terjadi di sana.

Tapi, waktu, kau yang paling tua dan tentu saja paling berpengalaman. Pegang selalu harapan dan impianku, jangan pernah tinggalkanku sedetik pun dari sistem kerjamu. Karena saat kau beranjak, maka aku mati.


0 comments